Arrahmah.Com

Arrahmah.Com

Link to Arrahmah.com

Amir Jabhah Nushrah: Gencatan senjata hanya memberikan keuntungan bagi rezim Asad

Posted: 12 Dec 2015 03:32 PM PST

Grafiti bertuliskan Jabhah Nushrah di sebuah tembok di salah satu kota Suriah

(Arrahmah.com) - Gencatan senjata antara rezim Nushairiyah pimpinan Bashar Asad dengan pemberontak Suriah hanya akan memberikan keuntungan bagi rezim, ujar pernyataan pemimpin salah satu kelompok terbesar di Suriah yang memerangi rezim yang disiarkan pada Sabtu (12/12/2015), di mana ia juga mengkritik pertemuan oposisi baru-baru ini di Riyadh sebagai sebuah konspirasi.

Pernyataan oleh Syaikh Abu Muhammad Al-Jaulani, amir Jabhah Nushrah, datang untuk merespon pembicaraan yang dilakukan di Arab Saudi awal pekan ini.

"Gencatan senjata adalah langkah pertama untuk menyerah dan mengambil tempat hanya untuk kepentingan rezim," ujar Syaikh dalam sebuah konferensi pers di hadapan beberapa wartawan yang disiarkan oleh stasiun televisi termasuk Orient News TV.

Tidak jelas kapan dan dimana rekaman tersebut diambil. Wajah Syaikh Al-Jaulani diburamkan dalam rekaman tersebut.

Syaikh Al-Jaulani mengecam konferensi oposisi Suriah yang diadakan di Riyadh, ibukota Arab Saudi pada awal pekan ini dan menyatakannya sebagai sebuah konspirasi.

"Siapa pun yang pergi ke konferensi tersebut tidak memiliki kemampuan untuk melaksanakan berbagai hal di lapangan," ungkapnya.

Ia juga mengatakan bahwa konferensi di Riyadh adalah upaya untuk menjaga kekuasaan Bashar Asad.

"Itu ingin menjaga Bashar Asad dan memasukkan oposisi bersenjata ke dalam pasukan rezim dan kemudian gabungan kelompok ini akan memerangi Jabhah Nushrah dan ISIS dan berusaha untuk memaksakan gencatan senjata kepada rakyat Suriah," ujarnya seperti dilansir Zaman Alwasl pada Ahad (13/12).

"Konferensi ini bukan untuk kepentingan rakyat Suriah, dan tidak dapat diterima."

"Ini adalah pengkhianatan besar terhadap orang-orang yang mengorbankan darah mereka dan setiap orang yang mengorbankan darah mereka untuk pembentukan pemerintahan Islam. Ini adalah konspirasi dari banyak faksi dan kami harus bekerja untuk menggagalkan plot tersebut," lanjutnya.

"Kami mengambil jalan Jihad dan kami akan menyelesaikan proses, dan kami berbicara mengenai pembebasan lebih dari 80 persen wilayah Suriah," ujar Syaikh Al-Jaulani mengacu kepada fakta bahwa rezim Nushairiyah pimpinan Bashar Asad hanya mengusai sekitar 20 persen dari wilayah Suriah saat ini.

Dalam menanggapi pertanyaan mengenai hubungan kelompoknya dengan Al-Qaeda, ia mengatakan bahwa Jabhah Nushrah tidak akan bekerjasama dengan Barat dan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip mereka.

Sebelumnya Syaikh Al-Jaulani pernah melakukan wawancara eksklusif dengan saluran televisi yang berbasis di Qatar, Al Jazeera pada awal tahun ini. Dalam wawancara tersebut, ia duduk membelakangi kamera. (haninmazaya/arrahmah.com)

Syaikh Al-Jaulani mengecam pembicaraan Suriah di Riyadh dan mengatakan bahwa itu upaya pengkhianatan

Posted: 12 Dec 2015 03:08 PM PST

Syeikh Abu Muhammad Al-Jaulani, amir Jabhah Nushrah, memberikan konferensi pers kepada empat jurnalis media internasional di Suriah (Foto: Al Jazeera)

(Arrahmah.com) - Amir Jabhah Nushrah, salah satu kelompok Mujahidin terkuat yang berperang di Suriah melawan rezim Nushairiyah pimpinan Bashar Asad mengecam upaya Arab Saudi untuk menyatukan kelompok oposisi (moderat) dan mengatakan mereka terlibat dalam komitmen pengkhianatan.

Dalam sebuah wawancara dengan beberapa media termasuk Al Jazeera, Syaikh Abu Muhammad Al-Jaulani mengatakan konferensi Riyadh adalah bagian dari konspirasi untuk menghidupkan kembali dan mempertahankan rezim Bashar Asad, lansir Al Jazeera pada Sabtu (12/12/2015).

"Konferensi itu tidak diorganisir untuk menolong rakyat Suriah," ujar Syaikh Jaulani.

Dia mengatakan Jabhah Nushrah tidak diundang untuk menghadiri pembicaraan dan mereka tidak akan pernah muncul bahkan jika telah diminta.

Kelompok-kelompok bersenjata yang menghadiri pertemuan telah berkomitmen untuk berkhianat terhadap pengorbanan yang dilakukan oleh orang-orang Suriah dalam perang yang hampir berlangsung selama lima tahun, lanjut Syaikh Jaulani.

Pertemuan di Saudi datang setelah diplomat dari 17 negara termasuk pendukung dan penentang Asad setuju pada bulan lalu di Wina pada peta jalan untuk konflik Suriah.

Pemerintahan transisi akan dibentuk dalam waktu enam bulan dan pemilihan dalam waktu 18 bulan, seiring dengan negosiasi antara oposisi dengan rezim Suriah pada 1 Januari mendatang.

"Sejauh yang kami perhatikan, rezim telah berakhir, dan sebenarnya itu lebih cocok menjadi sebuah faksi ketimbang rezim, yang dikendalikan oleh kolonel atau jenderal," ujar Syaikh Jaulani yang menambahkan bahwa pasukan rezim Nushairiyah hanya menguasai sekitar 20 persen dari wilayah Suriah.

Setelah meluncurkan kampanye udara pada akhir September lalu, Rusia sejauh ini gagal untuk membuat kemajuan yang signifikan dan akan gagal dalam menopang kekuasaan rezim, lanjut amir Jabhah Nushrah tersebut.

Ia juga menekankan bahwa Jabhah Nushrah tidak berniat melakukan operasi terhadap siapa pun di luar Suriah. Ia juga mengatakan akan mempertahankan hubungan organisasinya dengan Al-Qaeda dan memuji Al-Qaeda yang telah mengalahkan Barat dalam perang melawan Muslim di Afghanistan dan Irak. (haninmazaya/arrahmah.com)

Pengadilan Federal Swiss menolak larangan jilbab di sekolah

Posted: 12 Dec 2015 08:26 AM PST

headscarfban

SWISS (Arrahmah.com) - Pengadilan Federal Swis telah menolak larangan jilbab wilayah St Gallen di sekolah, lansir World Bulletin Jum'at (11/12/2015).

Keputusan yang diambil pada Jum'at tersebut mengakhiri kasus yang telah dimulai pada 2013, ketika otoritas St Margrethen keberatan dengan siswi Muslim berumur 14 tahun memakai jilbab ke kelas. Keluhan pihak sekolah itu berdasarkan larangan wilayah dalam pemakaian jilbab ke dalam sekolah.

Pengadilan kewilayahan membantah protes pihak sekolah setelah orangtua murid tersebut menolak untuk mengizinkan anak mereka datang ke sekolah tanpa jilbab.

Pada Jum'at, Pengadilan Federal memutuskan menolak larangan jilbab di sekolah. Hakim berargumen bahwa larangan memakai jilbab bukanlah syarat untuk pengajaran yang efektif.

"Memakai kerudung tidak membuat seseorang bersikap tidak sopan atau tidak disiplin," kata Hakim Federal Florence Aubru Girardin.

Kasus ini bukanlah satu-satunya yang menargetkan pakaian Muslim di Swiss. Wilayah Ticino menyerukan larangan penutup wajah pada 2013, suara yang disahkan oleh parlemen kewilayahan pada bulan ini.

Selain itu juga ada upaya menerapkan larangan burka di Aargau, Zurich dan Valais. (siraaj/arrahmah.com)

Mujahidin IIA menyerang rumah tamu khusus penjajah asing di Kabul

Posted: 12 Dec 2015 08:01 AM PST

kabul attack

KABUL (Arrahmah.com) - Mujahidin Imarah Islam Afghanistan (IIA) melancarkan srangan terhadap sebuah rumah tamu khusus orang asing di pusat kota Kabul pada Jum'at (11/12/2015) malam, menurut laporan Al-Emarah News.

Laporan mengatakan sebuah unit Mujahidin IIA, yang tediri dari 4 Mujahidin, menerobos ke dalam rumah tamu yang mana digunakan khusus menerima orang-orang asing dan staf keamanan penjajah yang terletak di daerah Shirpur itu dan meledakkan sebuah mobil yang penuh dengan bahan peledak di pintu masuknya, menyingkirkan pasukan keamanan.

Laporan menambahkan bahwa pasukan Mujahidin yang tersisa masuk ke dalam gedung tersebut dan terlibat baku tembak dengan pasukan musuh.

Sekitar 20 tentara penjajah asing dan antek mereka tewas dan puluhan lainnya terluka dalam operasi tersebut. Allahu Akbar!

(siraaj/arrahmah.com)

Serangan granat di masjid Ethiopia, 7 orang terluka

Posted: 12 Dec 2015 06:10 AM PST

Seorang penyerang tak dikenal dilaporkan telah melemparkan sebuah granat tangan ke masjid terbesar di ibukota Ethiopia, melukai sedikitnya 16 orang.

ADDIS ABABA (Arrahmah.com) - Setidaknya 17 orang terluka ketika sebuah granat dilemparkan ke dalam masjid di Addis Ababa, ibukota Ethiopia, setelah shalat Jum'at, seorang juru bicara pemerintah mengatakan pada Sabtu (12/12/2015).

Masjid Anwar, yang terletak di distrik Merkato pusat yang padat, merupakan salah satu tempat ibadah utama bagi ummat Islam di ibukota itu.

"Sejauh ini kami tidak tahu siapa yang bertanggung jawab atas insiden ini," kata menteri komunikasi Getachew Reda kepada AFP.

"17 orang terluka termasuk beberapa orang mengalami luka serius, namun tidak ada korban jiwa," tambahnya.

Serangan kekerasan sangat jarang terjadi di Ethiopia dimana pasukan pemerintah dan keamanan berjaga-jaga dengan ketat, namun ketegangan antara mayoritas Kristen dan minoritas Muslim memang ada dan kelompok pemberontak bersenjata terus beroperasi di bagian terpencil di negara itu.

(ameera/arrahmah.com)

Shalat di taman, seorang Muslim disiram kopi

Posted: 12 Dec 2015 05:25 AM PST

Seorang wanita menyerang Muslim yang shalat di sebuah taman di California (Facebook).

CALIFORNIA (Arrahmah.com) - Seorang wanita melontarkan penghinaan anti-Islam dan kemudian menyiramkan kopi panas kepada sekelompok Muslim saat dia melihat mereka shalat di sebuah taman di California.

Rasheed Albeshari mengatakan bahwa dia dan beberapa temannya baru saja selesai melaksanakan sholat ketika wanita itu melontarkan kata-kata penghinaan kepada mereka, Arab American News melaporkan, sebagaimana dilansir oleh Raw Story, Rabu (9/12/2015).

Albeshari merekam kata-kata kasar dari wanita itu melalui ponselnya. Dalam rekaman tersebut, wanita itu menuduh mereka sebagai teroris yang menyiksa orang-orang Kristen.

"Orang-orang yang Anda disiksa, mereka akan kekal di surga," ujar wanita itu, yang membawa secangkir kopi, payung dilipat dan tas pinggangnya.

"Anda sangat tertipu oleh Setan. Otak kalian telah diambil alih, telah dicuci, dan kalian tidak memiliki apa-apa selain kebencian, tidak memiliki apa-apa selain kebencian."

Seorang penjaga taman mendekati lokasi kejadian dan bertanya kepada wanita itu apakah kata-katanya yang kasar kepada pengunjung taman lainnya adalah sesuatu yang pantas.

"Ini adalah tidak pantas, kau benar, untuk seseorang yang merekam saya," kata wanita itu.

Albeshari mengatakan bahwa wanita itu telah menghina Allah, dan pada saat dia mendekatinya, wanita itu memukulnya dengan payung dan kemudian menyiramkan kopi ke wajahnya.

Teman-temannya menelepon polisi, dan mereka sedang menyelidiki kasus ini sebagai kemungkinan kejahatan rasial.

"Dia mengatakan 'Allah adalah Iblis dan kamu semua adalah pembunuh'," kata Albeshari kemudian.

Albeshari mengatakan bahwa ia pindah ke California dari North Carolina empat tahun lalu, karena dia pikir bahwa dia akan menghadapi sedikiti diskriminasi.

Tapi Muslim di Amerika Serikat telah menjadi target kekerasan dan diskriminasi sejak serangan Paris bulan lalu, dan penembakan massal pekan lalu di San Bernardino.

"Saya tidak pernah berpikir ini akan terjadi kepada saya di sini," kata Albeshari. "Ini adalah sangat tidak nyaman."

(ameera/arrahmah.com)

Menlu Arab Saudi: Asad harus mundur, secara sukarela atau terpaksa

Posted: 11 Dec 2015 08:20 PM PST

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel Al-Jubeir, berbicara saat konferensi pers di Riyadh, Kamis.(10/12/2015). (Foto: AFP).

RIYADH (Arrahmah.com) - Presiden Suriah Bashar Asad memiliki dua pilihan: "Apakah mundur melalui negosiasi atau dipaksa mundur dari kekuasaan," kata Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel Al-Jubeir, di Riyadh, pada Kamis (10/12/2015), sebagaimana dilansir oleh Saudi Gazette.

Jubeir berbicara kepada wartawan saat pertemuan dua hari kelompok oposisi Suriah di mana para penentang Assad itu menyerukan kepada PBB untuk menekan rezim Asad agar mengambil langkah-langkah menjelang pembicaraan damai yang diusulkan, Saudi Press Agency melaporkan.

"Seperti yang saya katakan sebelumnya, Bashar Asad memiliki dua solusi: Mundur melalui negosiasi, yang merupakan pilihan yang mudah dan lebih baik bagi semuanya. Atau ia akan harus mundur melalui pertempuran karena orang-orang Suriah menolak rezim Asad tetap berkuasa," katanya.

Berbicara tentang Iran, Al-Jubeir mengatakan bahwa Iran memainkan "peran negatif" di wilayah tersebut.

Iran memiliki pengaruh negatif pada "sebagian besar isu-isu regional," katanya.

Dia juga menambahkan bahwa ia telah bertemu dengan menlu Iran hanya "beberapa menit" di sela-sela pertemuan Wina bulan lalu untuk membahas cara-cara untuk mengakhiri perang di Suriah.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada akhir pertemuan kelompok oposisi dan faksi revolusioner, kelompok oposisi politik dan bersenjata Suriah sepakat bahwa Asad dan para pejabatnya harus mundur dengan dimulainya masa transisi yang ditetapkan bulan lalu oleh para diplomat tinggi.

Para delegasi juga menyatakan kesediaan mereka untuk melakukan gencatan senjata atas dasar kondisi yang disepakati, dan hal itu akan berada di bawah pengawasan PBB. Pertemuan itu juga telah menyepakati pembentukan Komisi Tinggi untuk Negosiasi, yang berbasis di Riyadh.

Para delegasi Suriah menekankan pentingnya menjaga integritas wilayah negara mereka dan menegaskan keyakinan mereka bahwa Suriah harus tetap menjadi negara inklusif, sipil, dan berdaulat berdasarkan struktur federal.

Menolak kehadiran pejuang asing di negara itu, kelompok-kelompok itu menyerukan untuk menyelesaikan krisis Suriah melalui cara-cara politik.

Mereka menyepakati kerangka kerja untuk melakukan negosiasi dengan para pejabat yang mewakili rezim Asad atas dasar kesepakatan Jenewa Juni 2012 dan resolusi internasional tentang dimulainya kembali perundingan.

Mereka juga menyepakati untuk membentuk tim negosiator untuk mengadakan pembicaraan dengan rezim Asad.

(ameera/arrahmah.com)

Kelompok peretas Anonymous nyatakan perang terhadap Donald Trump

Posted: 11 Dec 2015 07:35 PM PST

Kelompok hacktivist Anonymous telah memperingatkan Donald Trump atas komentar anti-Muslim-nya. (Foto: MEE).

WASHINGTON (Arrahmah.com) - Keompok Hacktivist Anonymous telah menyatakan perang terhadap calon presiden AS Donald Trump setelah ia mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa ia akan melarang semua Muslim memasuki AS.

Sebagaimana dilansir oleh Middle East Eye, Jum'at (11/12/2015), dalam video yang diposting di YouTube, kelompok itu mengatakan bahwa ini adalah sebagai peringatan kepada Donald Trump untuk mengakhiri retorika anti-Muslimnya.

"Kebijakan ini akan memiliki dampak besar," orang tak dikenal dalam video mengatakan dengan suara berat efek komputerisasi yang dilakukan untuk melindungi identitas mereka.

Akun media sosial yang terkait dengan Anonymous, memposting foto yang menunjukkan para peretas sedang mencoba membebani situs Trump Tower dengan mengirimkan sejumlah besar permintaan. Beberapa laporan media menunjukkan situs itu mengalami down selama sekitar satu jam.

Anonymous menggunakan hashtag #OpTrump untuk mempromosikan kampanye anti-Trump secara online.

Tidak jelas apa atau bagaimana tindakan lebih lanjut yang akan diambil oleh Anonymous, meskipun ini bukan pertama kalinya mereka menargetkan situs milik konglomerat yang saat ini menjadi pelopor dalam pemilihan Presiden AS dari Partai Republik.

Pada bulan Agustus, kelompok peretas Anonymous juga membobol website milik perusahaan Donald Trump, dan meninggalkan pesan yang berisi ucapan terimakasih kepada pembawa acara The Daily Show Jon Stewart di halaman situs yang dirusak.

"Mr Stewart, kami diTelecomixCanada ingin mengambil kesempatan ini untuk mengucapkan terima kasih atas kualitas jurnalisme dan hiburan Anda selama bertahun-tahun dan tim Anda telah melakukannya di Comedy Central," kata pesan itu di situs Trump.

Muktamar VI ICMI gunakan musyawarah mufakat untuk suksesi kepemimpinannya

Posted: 11 Dec 2015 06:07 PM PST

logo ICMI

JAKARTA (Arrahmah.com) - Muktamar VI Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dan Milad ke-25 dilaksanakan pada 11-13 Desember 2015 di Mataram, Propinsi Nusa Tenggara Barat.

Hal yang akan berbeda dari pelaksanaan puncak Muktamar VI ICMI dengan sebelumnya adalah, ICMI akan menggunakan sistem musyawarah untuk mencapai mufakat guna memilih pucuk pimpinan organisasi cendekiawan muslim terbesar di Indonesia itu.

"Karena kita adalah organisasi cendekiawan Muslim, sehingga kita juga harus gunakan cara-cara Islam yaitu musyawarah untuk mencapai mufakat," kata Presidium ICMI, Dr. Sugiharto seperti dilansir laman icmi.or.id, Jumat (11/12/2015).

Menurutnya sistem ini rencananya akan dijadikan sebagai kultur ICMI dalam suksesi kepemimpinan dan penyelesaian setiap masalah. Bahkan, ICMI tidak akan menggunakan pemungutan suara seperti yang pernah berlaku sebelumnya karena cara tersebut dianggap jauh dari tuntunan ajaran Islam.

"Adapun sistem presidium tetap kita gunakan, hanya masa kepemimpinannya tidak berganti setiap tahun seperti yang sebelumnya. Yang akan datang, rencananya satu orang Presidium akan bertanggungjawab menjalankan program selama 5 tahun dan didampingi oleh 6 orang Presidium lainnya," ujar Sugiharto. (azmuttaqin/arrahmah.com)

PB HMI MPO dukung perjuangan Intifadah III

Posted: 11 Dec 2015 05:07 PM PST

Intifadha III

JAKARTA (Arrahmah.com) - Pengurus Besar Himpunan Mahassiswa Islam Majelis Penyelamat Organsisasi (PB HMI MPO) mendukung perjuangan warga Palestina melalui Intifadah III dan menyerukan kepada pemerintah zionis Israel hentikan pendudukan terhadap warga Palestina

"Beberapa bulan yang lalu hingga hari ini perlawanan rakyat Palestina melalui intifadah III terus berlanjut, dan PB HMI MPO mendudkung perjuangan tersebut. Hampir separuh abad rakyat Palestina menderita dalam pendudukan "Israel", sumber kekeraasan di kawasan timur tengah, rakyat Palestina mengalami penindasan dan penghinaan di tanah mereka sendiri." kata Ketua umum PB HMI MPO, Muhammad Fauzi, dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (12/12/2015).

Menurut Fauzi, selama ini seolah-olah ada impunitas atas kejahatan-kejahatan "Israel" terhadap warga Palestina. Kurangnya tanggung jawab dan impunitas yang diberikan kepada zionis Israel oleh warga internasional turut menciptakan kondisi saat ini.

"Saat ini, Netanyahu menyatakan perang terhadap warga sipil Palestina dengan menerapkan serangkaian kebijakan yang menindas. Membatasi akses rakyat Palestina ke masjid Al Aqsa, meneruskan pembangunan pemukiman illegal, dan menolak hak-hak warga Palestina secara keseluruhan, termasuk berdaulat sebagai bangsa yang merdeka," paparnya.

Dia menambahkan, apa yang terjadi selama beberapa dekade terakhir di Palestina, semuanya bertentangan dengan hukum internasional. Namun, tanggapan internasional untuk beberapa hari terakhir jauh dari harapan. Kebanyakan hanya menyerukan untuk bernegosiasi antara zionis dan Palestina.

Negosiasi menurut Fauzi, bukanlah jalan keluar, "Israel" selalu melanggar kesepakan dan negosiasi yang di pernah disepakati selama ini.

"Masyarakat internasional diminta untuk tidak diam dan menyeret Netanyahu ke pengadilan internasional. Untuk mengakhiri pendudukan Israel sejak 1967 dengan melakukan pendudukan, penjajahan dan politik ala apartheid yang dilakukan oleh zionis "Israel". Budaya impunitas ini harus diakhiri segera agar kejahatan zionis tidak terulang lagi. Masyarakat internaasional harus memikul tanggung jawabnya dan menyeret Netanyahu ke pengadilan internaasional," tegas tegasnya.

Sebagai informasi, larangan "Israel" terhadap akses penduduk palestina Al Quds pada Ahad (4/10) disebut-sebut memicu gelombang intifadah gelombang ke III di tanah Pelestina. Selanjutnya gelombang perlawanan terhadap penjajahan "Israel" terus berlanjut dan meluas.. Pada Rabu (9/12) lalu, bentrokan kembali terjadi antara militer "Israel" yang bersenjata lengkap dengan warga Bethlehem yang menyebabkan satu orang warga Palestina wafat dan 70 orang mengalami luka-luka. Peristiwa ini menuai kecaman dari umat islam dunia. (azmuttaqin/arrahmah.com)