Palestina |
- Tentara Israel Tembaki Warga, 1 Anak Palestina Syahid
- Ahmad Ayesh Al-Najjar: Tanpa Bantuan Anda, Gaza Tidak Selamat!
- Memprihatinkan, Pengungsi Palestina Sudah 5 Generasi
- Sekjen PBB Ban Ki-mon “Si Setan Bisu”
| Tentara Israel Tembaki Warga, 1 Anak Palestina Syahid Posted: 17 Oct 2014 04:47 PM PDT Islamedia.co - Bentrokan sengit meletus antara warga desa dan tentara Israel. Hal tersebut di picu karena tewasnya Seorang anak lelaki Palestina ditembak hingga tewas pada Kamis malam (16/10) oleh tentara Israel di Kota Kecil Beit Luqia di sebelah barat laut Kota Ramallah, Tepi Barat Sungai Jordan.Beberapa saksi mata mengatakan selama penembakan gencar oleh tentara Israel, salah satu peluru mengenai Bahaa Bader, ia menderita luka parah dan meninggal di rumah sakit akibat luka yang dideritanya. Petugas medis di Rumah Sakit Ramallah mengatakan Bahaa Bader, anak lelaki yang berusia 13 tahun dari Beit Luqia, tewas disebabkan oleh tentara Israel yang melepaskan tembakan selama penyerbuan. Direktur Rumah Sakit Ramallah, Ahmed Betawai, menambahkan anak itu ditembak tiga kali di dada dan meninggal sekitar dua jam setelah kejadian akibat luka parah yang dideritanya, seperti dilaporkan Ma'annews. Ketegangan antara Israel dan Palestina telah melonjak dalam beberapa hari terakhir di tengah tuduhan Palestina bahwa Israel tidak adil membatasi akses ke jamaah Palestina di situs suci Yerusalem sementara pemukim Yahudi bebas keluar masuk kompleks Al-Aqsa. Kematian Bader membuat jumlah warga Palestina yang tewas oleh pasukan Israel di Tepi Barat sepanjang tahun ini menjadi 42, di samping 2.200 warga Palestina yang terbunuh selama kebrutalan Israel di Jalur Gaza musim panas lalu. [rol/im] |
| Ahmad Ayesh Al-Najjar: Tanpa Bantuan Anda, Gaza Tidak Selamat! Posted: 17 Oct 2014 04:18 PM PDT Islamedia.co - Puluhan ribu orang masih rasakan penderitaan luar biasa pasca 51 hari serangan masif tentara Zionis Israel atas Kota Gaza, Palestina. Mereka masih membutuhkan uluran tangan sesama dari seluruh penjuru dunia. Sebuah paparan tentang kondisi terkini itu terkuak dalam konferensi pers bertajuk "Recovering Gaza" yang digelar Aksi Cepat Tanggap (ACT). Konpers berlangsung Kamis (16/10/2014), di Gedung Menara 165, Lantai 11, Jl TB Simatupang, Jakarta Selatan. Pembicara utama dalam konferensi pers itu adalah Ahmad Ayesh Al-Najjar, Deputy Director General of International and Public Relations Departement, Ministry of Education and Higher Education, Gaza. Ahmad didampingi Presiden ACT Ahyudin serta Akhwat Bergerak Peggy Melati Sukma. Paparan Ahmad yang sangat detil dan runtut, dimana sebagian menyajikan dengan video kondisi Gaza, menggiring audiens pada situasi emosional. Hal itu dipicu oleh Ahmad, yang pada satu titik, harus berhenti berkata-kata, karena emosi yang tak tertahan. Seperti saat memaparkan 85 anggota kerabatnya yang menjadi korban keganasan serangan Israel. Ahmad memaparkan, serangan brutal dan biadab selama bulan suci Ramadhan lalu telah mengakibatkan pembunuhan 2.147 orang Palestina. Sebagian adalah 530 anak-anak, 16 wartawan, 23 tenaga kesehatan dan 11 karyawan UNRWA. Sementara itu, 10.870 warga Palestina terluka, termasuk 3.303 anak-anak dan 2.101 perempuan. Yang menyedihkan, menurut Departemen Kesehatan sepertiga dari anak-anak terluka akan menderita cacat permanen. Efek lain serangan adalah ratusan ribu warga Palestina dievakuasi dari rumah mereka baik karena ancaman Zionis atau karena rumah mereka dibom dan hancur total atau rusak berat. Adapun jumlah rumah langsung terpengaruh oleh serangan Zionis, 17.132 rumah yang baik sebagian atau seluruhnya hancur. Sementara ada 2465 rumah hancur total dan 13.644 rumah rusak parah. Puluhan ribu rumah rusak sedang. Ada 29 rumah sakit dan klinik pelayanan kesehatan primer yang rusak, bersama dengan 36 ambulan yang sengaja ditargetkan dan dihancurkan. 171 masjid sengaja dibom, 62 di antaranya hancur total, 10 gereja rusak, 217 sekolah hancur, termasuk 141 pemerintah, 76 UNRWA. Enam universitas dan perguruan tinggi berkelanjutan parah rusak setelah mereka langsung dibom, 55 kapal nelayan juga dibom dan hancur total. "Ini sangat terpengaruh 3.000 individu yang benar-benar tergantung pada perikanan sebagai satu-satunya sumber mereka sendiri pendapatan" kata Ahmad. Tercatat ada 48 LSM yang memberikan bantuan ke orang-orang miskin, Rahma Charity yang benar-benar hancur. 372 usaha, pabrik dan operasi industri atau komersial lainnya rusak, serta 19 lembaga keuangan. Kerugian ekonomi langsung dan tidak langsung dari serangan ofensif Israel diperkirakan sekitar 7 miliar dolar AS. Ahmad juga meyakinkan tanpa peran LSM pro Palestina dari seluruh dunia, termasuk Indonesia, sangat membantu meringankan penderitaan rakyat Palestina di Gaza. "Tanpa campur tangan LSM dalam serangan terakhir terhadap jalur Gaza, Palestina tidak akan selamat," cetus Ahmad. "Kami ingin menarik perhatian dari seluruh dunia dan khususnya saudara-saudara kami di Indonesia atas ancaman yang sangat serius terhadap suci Al Aqsha yang sedang dinodai setiap hari oleh mereka (Zionis)," urai Ahmad. "Akhirnya, kami ingin menyampaikan terima kasih kepada semua saudara-saudara kami di Indonesia dan umat Islam seluruh dunia yang peduli terhadap kami. Khusus terima kasih kepada para pejabat Indonesia dan Saudara kami di ACT Foundation. Bersama-sama, Palestina dan Indonesia serta dunia Islam akan mengukir harapan masa depan yang berakhir dengan kemenangan. Insya Allah!" [ACT/Islamedia/YL] |
| Memprihatinkan, Pengungsi Palestina Sudah 5 Generasi Posted: 17 Oct 2014 02:12 AM PDT Islamedia.co - Salah satu dampak penjajahan Zionis atas Palestina adalah terusirnya sebagian besar warga Palestina dari kampung halaman mereka. Tragedi kemanusiaan ini mengguratkan luka dan derita sebagai bangsa terjajah. Menurut data Biro Pusat Statistik Palestina tahun 2012, dari 11,5 juta jumlah keseluruhan bangsa Palestina sekitar 6,8 juta diantaranya bernasib sebagai pengungsi. Jumlah ini termasuk warga Palestina yang berada di dalam dan luar Palestina. Ini artinya hampir 67% warga pengungsi Palestina bernasib sebagai pengungsi. Mereka tersebar di Gaza dan Tepi Barat atau wilayah Palestina terjajah, dan di segala penjuru bumi. Jumlah ini adalah yang terbanyak dari jumlah pengungsi yang ada di dunia, juga pengungsi ini yang paling lama mengungsi dan terusir dari kampung halamannya. Inilah yang menjadi salah satu program misi kemanusiaan Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) dalam memberikan bantuannya kepada para pengungsi Palestina, yang masih dalam rangkaian program "Humanitarian Aid For Palestine 2014". Demikian disampaikan Sekretaris Umum KNRP Heri Efendi, di Tyr Libanon, Jum'at (17/10). Heri melanjutkan, dan dari mereka juga banyak yang berstatus pengungsi yang mengungsi, seperti contoh pengungsi Palestina di Suriah. Ketika Suriah bergejolak, para pengungsi pun harus menempati negeri yang aman untuk sekedar bertahan hidup, seperti ke Yordania dan Libanon, "Jumlah pengungsi yang ada di Libanon sendiri berjumlah 450ribu jiwa, sekitar 50ribunya adalah pengungsi dari Suriah, yang kondisinya sangat memprihatinkan," ungkapnya. Awal dari banyaknya gelombang pengungsi Palestina itu bermula tahun 1948, penjajah zionis yahudi melakukan sejumlah pembantaian di beberapa kota di Palestina, atau yang dikenal dengan peristiwa Nakbah, sekitar 800ribu rakyat Palestina menjadi pengungsi, ke wilayah-wilayah yang berbatasan dengan wilayah kampung halaman mereka. Yang berbatasan dengan Palestina Utara, para pengungsi menuju Libanon, termasuk ke Suriah, sementara untuk Palestina bagian Tengah, yang didalamnya ada kota Al Quds, para pengungsi menuju Yordania, dan gelombang besar pengungsi terjadi pada sekitar tahun 1967. "Hingga saat ini, mereka masih terus berada di pengungsian, dari tahun 1948 sampai 1967, bahkan sudah 3 (tiga) sampai 5 (lima) generasi pengungsi yang tersebar di wilayah Libanon, Suriah, Yordania dan negara lainnya," imbuh Heri yang juga alumnus Universitas Al Azhar, Kairo Mesir. Kini di sejumlah negara, pengungsi Palestina mendapat perlakuan yang berbeda-beda, ada yang disetarakan dengan warga negara dimana tempat mereka mengungsi, dan tidak sedikit dari mereka yang menderita, "Sampai tidak bisa mendapatkan hak untuk memiliki apapun dan hak bekerja meskipun pengungsi tersebut memiliki kapasitas yang mumpuni, kecuali pekerjaan-pekerjaan yang rendah atau kasar," pungkas Heri. Dalam misi kemanusiaan kali ini, selain KNRP yang diwakili relawan KNRP Pusat, KNRP Wilayah Sumatera Utara, KNRP Jawa Barat, juga turut serta Adara Relief International, PB Mathla'ul Anwar dan Rumah Zakat. Rencananya rombongan relawan ini akan menemui pengungsi di Libanon sekitar 3 (tiga) hari kedepan, dan selanjutnya akan beranjak ke pengungsi Palestina di Yordania. (knrp/islamedia/js) Kontak : Sekretaris Umum KNRP – Heri Efendi, Lc | 081381638843 (WA) Biro Humas KNRP – Zakaria M. Alif | 08161191182 (WA) |
| Sekjen PBB Ban Ki-mon “Si Setan Bisu” Posted: 17 Oct 2014 01:18 AM PDT Islamedia.co - Sekjen PBB Ban Ki-mon Rabu 15 Oktober 2014, melakukan kunjungan ke Jalur Gaza untuk melihat besarnya kehancuran di berbagai wilayah di Jalur Gaza. Dia mengunjungi lembaga-lembaga UNRWA yang digempur Zionis.Namun sejumlah pihak kecewa dengan apa yang disampaikan Ki-mon dalam konferensi persnya. Direktur Pusat HAM "Mizan", Isham Yunus, menyatakan bahwa sekjen PBB sama sekali tidak menyinggung persoalan mendasar seperti tanggung jawab moral dari PBB atas kejahatan perang yang terjadi, bahkan lembaganya menjadi bagian dari masalah ketika lebih memilih diam. "Kami berharap dia menunjukkan sebab masalah, mempertanyakan dan menghukum pihak yang melakukan kejahatan karena penjajah menganggap dirinya di atas hukum. Kami tunggu dia mengatakan, sekarang saatnya menghukum 'Israel'atas kejahatannya setelah 51 hari melancarkan perang." menurut pengamat politik Dr. Walid Mudalil, dia bisa mengkriminalkan "Israel", sementara dia justru mengecam perlawanan. Di Gaza dia bicara berbeda dengan apa yang dia sampaikan di "Israel". Di Israel Dia mengatakan, "Kami terkejut dengan apa yang kami saksikan. Tidak mungkin penduduk selatan 'Israel' hidup di bawah ancaman roket dari udara dan terowongan. Saya telah mengecam terowongan dan roket yang ditembakkan Hamas. Hal ini tidak bisa diterima, ini telah menyerang penduduk sipil, ini harus dikecam." Sementara di Gaza dia bicara, "saya mendengar anak-anak dan para guru berbicara tentang cobaan yang mereka alami. Apa yang terjadi di Gaza adalah kehancuran besar dan aib bagi masyarakat internasional, menuntut kebutuhan besar. Seharusnya yang lahir di Gaza bukan sebuah kejahatan. Apa yang dilakukan anak-anak itu sehingga dibunuh 'Israel'?" Ban Ki-mon tidak memiliki keputusan dan tidak keluar dari garis yang ditetapkan Amerika. Untuk itu dia hanya cukup berkunjung dan mengeluarkan pernyataan, tidak diikuti oleh langkah konkrit apapun. Dia adalah pegawai keamanan Amerika yang tidak memiliki keberanian berkata benar. Dia hanya cukup mengeluarkan pernyataan mengecam "Israel" dan Palestina. Seharusnya Ki-mon mencari sebab penderitaan rakyat Gaza, tidak lain adalah penjajah Zionis. Tidak ada optimisme PBB menghukum "Israel" atas kejahatannya menggempur lembaga-lembaga PBB, padahal ini sudah berulang kali terjadi dalam perang sebelumnya tahun 2009, 2012 dan sangat mungkin akan berulang lagi dan tanpa sanksi apapun. Maka layak lah PBB dan ban ki-moon kita sebut sebagai "setan bisu" karena tidak berani menyampaikan kebenaran padahal dia mampu untuk mengatakanya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah berkata: "Orang yang berdiam diri dari menyampaikan kebenaran (padahal ia mampu menyampaikannya, ) adalah Syaithon Akhros (Setan yang Bisu dari jenis manusia)." (islamedia/infopalestina) |
| You are subscribed to email updates from islamedia.co To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |




